lawan !! ketidakadilan

Posted in kehidupan, politik, umum on November 5, 2009 by ami

 aksi damai

Sebegitu tanpa hati nuranikah dengan alasan hukum harus lebih dikedepankan, sehingga seseorang yang begitu arogan, tanpa perasaan, menyebalkan dengan penuh percaya diri berani tampil di media elektronik dan membantah apa yang jelas terdengar dari pembicaraannya sendiri, bisa melenggang dengan status hanya sebagai saksi.

Itulah contoh dari sosok seorang pengusaha yang dengan yakin uang dapat membeli segalanya, termasuk keadilan apalagi nafsu keserakahannya. Sebegitu percaya bahwa uang akan dengan mudah membuat aparat bertekuk lutut manggut2 memenuhi keinginannya menyelamatkan diri dari konsekuensi merugikan negara dan masyarakat.

Yang lebih meyedihkan, aparat dengan kekuasaan sebesar itu ternyata memang betul bertekuk lutut terhadap imbalan uang dengan mengorbankan harga diri dirinya, negara dan juga bangsanya !

Semoga masih ada aparat yang memiliki intuisi dan berani mengedepankan intuisinya itu dalam menangani dan menelusuri kasus ini.

LAWAN !! KETIDAKADILAN

Pemberdayaan ??? perempuan

Posted in artikel, kehidupan, keluarga, umum dengan kaitan (tags) , , , , , on Oktober 21, 2009 by ami

ibuanak5

21 Oktober 2009
1.06pm

Pagi ini sambil menikmati segelas milo panas, aku mengikuti tayangan salah satu stasiun tv yang sedang menghadirkan Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan.

Sembari mendengarkan apa yang menjadi perbincangan, di dalam hati aku merasa kasihan dengan kementrian tersebut. Bayangkan saja, kementrian tersebut hanyalah kementrian kebijakan, hanya bisa menghimbau, tidak memiliki akses untuk dapat langsung menangani problem2 perempuan. Belum lagi penggunaan istilah pemberdayaan.

Sebagai seorang perempuan yang sudah menjadi ibu dan juga berpenghasilan, aku tidak merasa bahwa aku ini tidak mempunyai daya dan harus ditingkatkan keberdayaanku sehingga menjadi perempuan berdaya.

Memang betul banyak issue mengenai perempuan. Issue yang aku sering dengar,

Kenapa sih perempuan ingin menjadi super woman, udah terima aja apa adanya.

Menurut pendapatku, kita ini perempuan memang manusia super. Coba saja, perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan dengan akal pikiran dan hati, sama juga dengan lelaki. Perempuan dapat menjadi pencari nafkah sama dengan lelaki. Perempuan bisa melahirkan yang tidak sama dengan lelaki. Perempuan dikenal sebagai manusia multi task yang ternyata lelaki tidak begitu. Naaah bukankah kita ini memang manusia super??

Perempuan tidak mendapatkan kesempatan belajar yang sama dengan lelaki.

Berarti yang harus diberdayakan adalah orang2 yang menjadi pendidik (di rumah maupun di lembaga formal). Adalah tugas para pendidik untuk mengajarkan dan menananamkan pada semua anak, bahwa kesempatan belajar untuk lelaki dan perempuan adalah sama. Untuk apa dibedakan, karena lelaki dan perempuan adalah sama2 manusia yang dianugerahi akal pikiran dan hati. Sehingga anak2 tersebut memiliki pemahaman bahwa mereka adalah sama, memiliki kesempatan belajar yang sama, dan bersama2 antara anak lelaki dan perempuan mengingatkan para orang tua yang masih memiliki pola pemikiran merendahkan anak perempuan.

Perempuan hanya diberi peran di lingkungan domestic.

Aturan umum yang berlaku adalah, seorang suami atau bapak, memiliki peran sebagai pencari nafkah –nb. pada umumnya lahan mencari nafkahnya di luar rumah-. Dan seorang istri atau ibu memiliki peran mengurus anak2 dan rumah. Kalau para perempuan menginginkan juga berperan di luar rumah, kemudian siapa yang akan mengurus anak2 dan rumah ?? Sebuah negarapun memiliki lembaga2 yang mengurusi urusan dalam negeri dan luar negeri.

Lagi2 ini adalah tugas para pendidik untuk menanamkan pada anak2 bahwa peran seorang ibu sebagai ratu rumah tangga sama pentingnya dan sederajat dengan peran seorang bapak sebagai pencari nafkah.

Ada pepatah mengatakan, perempuan adalah tiang negara, arti umumnya adalah, tugas dari para perempuanlah untuk mengasuh dan mendidik generasi penerus dari sebuah bangsa, sehingga mereka siap dan menjadi penyelenggara negara yang baik, sehingga negara dapat tetap berdiri tegak di dalam kedaulatannya.

Jadi untuk apa perempuan yang bersedia menjadi ibu tetapi kemudian ingin berkiprah di luar rumah dengan alasan memiliki jati diri ?? Mengenai gaul bergaul, para ibu tetap bisa melakukannya disela mengurus anak2 dan rumah. Mengenai ketertinggalan informasi, waaah sekarang ini media elektronik sudah begitu beragamnya, tinggal para ibu ini mau atau tidak mengupdate pengetahuannya, atau maunya hanya melihat sinetron..

Jika ada kaum perempuan yang ingin memiliki pekerjaan seperti kaum lelaki, maka pilihlah menjadi perempuan yang tidak menjadi ibu, bersainglah dengan para lelaki di potensi pikiran dan kinerjanya. Janganlah mengharapkan mendapatkan pengecualian karena keperempuanannya, tetapi disisi lain, ingin disamakan kedudukannya.

Perempuan harus tertutup rapat.

Perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan dengan kelebihan memiliki keindahan. Mengapa harus ditutup rapat?? Bukankah para lelaki yang harus diberdayakan untuk supaya pandai mengendalikan diri dan emosinya sehingga dapat melihat perempuan dengan keindahannya tanpa dengan mudah terangkat nafsu birahinya.

Adalah tugas para pendidik kembali untuk memberikan arahan kepada anak lelaki dan perempuan, bagaimana tata cara bergaul yang benar, tata cara berpakaian yang sopan. Tata cara, kode etik dan persoalan moral ini berlaku untuk lelaki maupun perempuan.
 

Perempuan hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian,

contohnya menjadi buruh linting rokok. Mengapa tidak ada yang mempersoalkan, kuli pelabuhan didominasi oleh laki2. Perempuan dikenal sebagai makhluk yang lebih teliti dan telaten, sedangkan lelaki memiliki kekuatan fisik yang lebih besar. Berarti kan pekerjaan2 tersebut di atas sudah cocok dengan karakter masing2 ??

Janganlah merendahkan diri dengan ingin diberdayakan, ingin dipekerjakan. Kaum perempuan sama dan sederajat dengan lelaki, yang membedakan adalah peran dan tugasnya di dalam kehidupan bermasyarakat.
 

Menjadi perempuan, dengan perannya sebagai pengasuh pendidik anak dan mengurus rumah adalah pekerjaan yang mulia, tanpa mengenal waktu, 24 jam sehari. Malahan sekarang ini yang harus diberdayakan adalah para bapak. Masih banyak terjadi para bapak bekerja mencari nafkah di luar rumah kemudian sesampainya di rumah tinggal duduk baca koran sambil ngopi. Para bapak yang seperti inilah yang seharusnya diberi pengertian bahwa pendidikan anak akan semakin lengkap apabila beliau2 ini mau turut serta bersama istri membimbing anak2nya di saat beliau sudah di rumah.

Kesehatan perempuan terutama ibu hamil kurang mendapatkan perhatian.
 

Inipun adalah tugas para pekerja dibidang medic. Tugas para dokter, bidan atau mantrilah yang harus ditingkatkan untuk jeli menemukan perempuan yang sedang hamil ataupun perempuan yang dinomor duakan kepentingan kesehatannya. Dan tugas mereka jugalah mengingatkan para pasangan, suami dan istri, untuk memperlakukan istrinya yang sedang hamil dengan mendahulukan kepentingan kesehatan istrinya.

Kekerasan dalam rumah tangga lebih sering menimpa kaum perempuan.

Di negara yang berlandaskan keTuhanan ini, setiap lelaki dan perempuan yang akan menikah, harus menganut agama yang diakui oleh negara, dan pada saat membukukan janji pernikahan, mereka harus berada di dalam satu agama yang sama.
Untuk menghindari terjadinya kekerasan rumah tangga, maka ini adalah tugas para petugas di KUA dan Catatan Sipil untuk mengingatkan para pasangan agar jangan melakukan kekerasan terhadap pasangan dan anak2 mereka. Dan apabila ternyata tetap terjadi kekerasan di dalam rumah tangga, maka sudah menjadi hak mereka untuk kembali mendatangi KUA atau Catata Sipil. Karena di lembaga2 tersebut telah disediakan petugas2 yang akan memberikan konsultasi kepada pasangan yang sedang bermasalah.

Sekali lagi bukan perempuannya yang harus diberdayakan, tetapi para petugas di KUA dan Catatan Sipil yang harus ditingkatkan kinerjanya sehingga mereka bisa memberikan saran dan masukan ke pasangan yang akan mengikat janji.

Sudah menjadi tugas dari departemen2 yang telah dibentuk oleh negara untuk mengurus dan menyelesaikan bermacam problem yang ada di masyarakat. Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, Departemen Agama dll. Kalaupun dianggap perlu, cukup di dalam tiap departemen itu dibuatkan satu divisi khusus yang menangani kasus2 dengan korban perempuan.

Organisasi masyarakat atau LSM lah yang bertugas mengontrol kerja2 dari departemen2 yang terkait.

Yang terberat adalah tugas kita sebagai orang tua, mengarahkan dan mendidik anak2 untuk tidak saling membedakan antara anak lelaki dan perempuan, berilah contoh sebagai orang tua, sebagai pasangan suami istri, sebagai lelaki dan perempuan yang saling menghargai, saling menghormati tugas masing2.

Jadi, masih perlukah adanya Kementrian Pemberdayaan Perempuan ???

Rumah idaman

Posted in kehidupan, keluarga, umum dengan kaitan (tags) , , on Oktober 15, 2009 by ami

15 Oktober 2009

11.02pm

Rumah adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Demikian juga dengan diriku dan keluargaku. Saat ini kami menempati sebuah rumah yang dibangun sekitar tahun 1936, kemudian mengalami sedikit renovasi pada bagian tampak depan dan belakang bangunan, sehingga wajah asli rumah jaman colonial beralih rupa menjadi rumah modern tahun 80an.

Dengan tanpa mengurangi rasa bersyukur bisa memiliki tempat berteduh yang nyaman dan strategis, aku sering kewalahan dengan masalah kebersihannya. Apabila sudah waktunya untuk bebersih, tanpa terasa seharian kegiatanku hanyalah bebersih saja.

Letak rumah ini yang berada di tengah kota, dekat dengan jalan utama menuju Bandara, dekat dengan stasiun kereta api dan juga hanya dengan berjalan beberepa menit sampailah di sebuah mall, lalu lintas yang padat, belum lagi rumah kami terletak di bawah jalur lalu lintas pesawat, tidak dapat dihindari adanya kehadiran debu yang tebal berwarna hitam dan lengket. Belum lagi kebisingan yang ditimbulkan oleh lalu lalangnya kendaraan, waaaaah …

Beberapa hari ini aku disibukkan dengan memikirkan desain rumah yang ingin kami bangun di sebidang tanah di daerah Dago atas. Di atas tanah keluarga tersebut, telah berdiri rumah Ibuku, yang pada waktu tahun 90an dibangun khusus hanya untuk dirinya, sehingga beliau membangun rumah berukuran mungil dengan komposisi ruang yang mencukupi kebutuhan hanya untuk seorang.

Rumah yang sedang aku rencanakan ini bakal dibangun di samping rumah beliau, dan dengan pengalamanku menghuni rumah ini, yang untuk ukuranku, wuaaah besar, kini diriku merencanakan rumah mungil pula, secukupnya bisa menampung kegiatan keseharian kami seefisien mungkin tanpa membangun ruang2 yang tidak terpakai.

Tanah yang terletak di daerah yang cukup tinggi dan cukup jauh dari keramaian kota, dengan halaman yang cukup luas, menjanjikan hawa yang lebih sejuk dan sehat.

Bisa bertempat tinggal di daerah yang seperti inilah, keinginanku dari dulu. Semoga secepatnya kami bisa membangun, dan menikmati kesejukan hawa pegungungan.

 

 

rumah mungil ibu terpisah oleh pohon besar dari tanah bakal rumah kami

rumah mungil ibu terpisah oleh pohon besar dari lokasi bakal rumah kami

 

lokasi bakal rumah kami

lokasi bakal rumah kami

 

kacamata lagi

Posted in keluarga on Oktober 8, 2009 by ami

aaeglassesknvs

8 Oktober 2009
6.02am
Begitulah keadaan sekarang ini, kami semua pengguna kacamata :D
Beberapa hari yang lalu kakak mengeluhkan bahwa penglihatannya sedikit buram dan ingin segera memeriksakannya. Suatu momen yang tepat untuk membujuk adik yang sudah lebih dari setahun lalu memperlihatkan gejala penglihatannya kurang baik. Tetapi adik merasa berkeberatan menggunakan kacamata karena tidak ingin terlihat seperti kutu buku, begitu katanya.
Ketika mendengar bahwa kakak juga harus memeriksakan matanya, adik dengan mantap menyetujui untuk juga diperiksa.

 Sekitar 2 hari yang lalu kami berempat menuju sebuah optik di IP dan oleh petugas anak2 di cek matanya. Begitulah, kakak membutuhkan kacamata minus sekaligus silindris.
Sedangkan adik, petugas menyarankan diperiksakan ke dokter mata agar lebih tepat karena adik masih terhitung anak2.

 Kemarin pagi kami ke Rumah Sakit Mata di Cicendo, kami menuju bagian paviliun dan mendaftar dengan biaya pendaftaran 80.000rp. Antriannya, wedewwww cukup panjang.
Setelah menunggu sekitar 1,5 jam, nama adik dipanggil dan kami menuju ruang pemeriksaan umum yang dilakukan oleh suster. Adik di cek dengan cara membaca huruf2 mulai dari yang berukuran besar hingga kecil.
Sesudah selesai dengan pemeriksaan itu kembali kami menunggu giliran untuk bertemu dokter. Sekitar setengah jam kami menunggu dan akhirnya giliran kami bertemu dengan dokter mata.
Seorang dokter mata yang masih muda, cantik dan ramah telah menanti kami. Segera adik diperiksa kembali dengan menggunakan senter -2 macam senter-, alat pemeriksa mata, dan diukur jarak pupilnya. Kemudian dokter tersebut mengatakan, bahwa mata adik dalam kondisi yang bagus, jernih tidak berkatarak, tidak juling dan hanya membutuhkan kacamata. Minus 2 seperempat !!

 Jadilah kini kami sekeluarga menggunakan kacamata, tapi tetap rekor ketebalannya dipegang oleh ayah. Berapakah ?? Kita tunggu ya komen beliau :D :D :D