
21 Oktober 2009
1.06pm
Pagi ini sambil menikmati segelas milo panas, aku mengikuti tayangan salah satu stasiun tv yang sedang menghadirkan Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan.
Sembari mendengarkan apa yang menjadi perbincangan, di dalam hati aku merasa kasihan dengan kementrian tersebut. Bayangkan saja, kementrian tersebut hanyalah kementrian kebijakan, hanya bisa menghimbau, tidak memiliki akses untuk dapat langsung menangani problem2 perempuan. Belum lagi penggunaan istilah pemberdayaan.
Sebagai seorang perempuan yang sudah menjadi ibu dan juga berpenghasilan, aku tidak merasa bahwa aku ini tidak mempunyai daya dan harus ditingkatkan keberdayaanku sehingga menjadi perempuan berdaya.
Memang betul banyak issue mengenai perempuan. Issue yang aku sering dengar,
Kenapa sih perempuan ingin menjadi super woman, udah terima aja apa adanya.
Menurut pendapatku, kita ini perempuan memang manusia super. Coba saja, perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan dengan akal pikiran dan hati, sama juga dengan lelaki. Perempuan dapat menjadi pencari nafkah sama dengan lelaki. Perempuan bisa melahirkan yang tidak sama dengan lelaki. Perempuan dikenal sebagai manusia multi task yang ternyata lelaki tidak begitu. Naaah bukankah kita ini memang manusia super??
Perempuan tidak mendapatkan kesempatan belajar yang sama dengan lelaki.
Berarti yang harus diberdayakan adalah orang2 yang menjadi pendidik (di rumah maupun di lembaga formal). Adalah tugas para pendidik untuk mengajarkan dan menananamkan pada semua anak, bahwa kesempatan belajar untuk lelaki dan perempuan adalah sama. Untuk apa dibedakan, karena lelaki dan perempuan adalah sama2 manusia yang dianugerahi akal pikiran dan hati. Sehingga anak2 tersebut memiliki pemahaman bahwa mereka adalah sama, memiliki kesempatan belajar yang sama, dan bersama2 antara anak lelaki dan perempuan mengingatkan para orang tua yang masih memiliki pola pemikiran merendahkan anak perempuan.
Perempuan hanya diberi peran di lingkungan domestic.
Aturan umum yang berlaku adalah, seorang suami atau bapak, memiliki peran sebagai pencari nafkah –nb. pada umumnya lahan mencari nafkahnya di luar rumah-. Dan seorang istri atau ibu memiliki peran mengurus anak2 dan rumah. Kalau para perempuan menginginkan juga berperan di luar rumah, kemudian siapa yang akan mengurus anak2 dan rumah ?? Sebuah negarapun memiliki lembaga2 yang mengurusi urusan dalam negeri dan luar negeri.
Lagi2 ini adalah tugas para pendidik untuk menanamkan pada anak2 bahwa peran seorang ibu sebagai ratu rumah tangga sama pentingnya dan sederajat dengan peran seorang bapak sebagai pencari nafkah.
Ada pepatah mengatakan, perempuan adalah tiang negara, arti umumnya adalah, tugas dari para perempuanlah untuk mengasuh dan mendidik generasi penerus dari sebuah bangsa, sehingga mereka siap dan menjadi penyelenggara negara yang baik, sehingga negara dapat tetap berdiri tegak di dalam kedaulatannya.
Jadi untuk apa perempuan yang bersedia menjadi ibu tetapi kemudian ingin berkiprah di luar rumah dengan alasan memiliki jati diri ?? Mengenai gaul bergaul, para ibu tetap bisa melakukannya disela mengurus anak2 dan rumah. Mengenai ketertinggalan informasi, waaah sekarang ini media elektronik sudah begitu beragamnya, tinggal para ibu ini mau atau tidak mengupdate pengetahuannya, atau maunya hanya melihat sinetron..
Jika ada kaum perempuan yang ingin memiliki pekerjaan seperti kaum lelaki, maka pilihlah menjadi perempuan yang tidak menjadi ibu, bersainglah dengan para lelaki di potensi pikiran dan kinerjanya. Janganlah mengharapkan mendapatkan pengecualian karena keperempuanannya, tetapi disisi lain, ingin disamakan kedudukannya.
Perempuan harus tertutup rapat.
Perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan dengan kelebihan memiliki keindahan. Mengapa harus ditutup rapat?? Bukankah para lelaki yang harus diberdayakan untuk supaya pandai mengendalikan diri dan emosinya sehingga dapat melihat perempuan dengan keindahannya tanpa dengan mudah terangkat nafsu birahinya.
Adalah tugas para pendidik kembali untuk memberikan arahan kepada anak lelaki dan perempuan, bagaimana tata cara bergaul yang benar, tata cara berpakaian yang sopan. Tata cara, kode etik dan persoalan moral ini berlaku untuk lelaki maupun perempuan.
Perempuan hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian,
contohnya menjadi buruh linting rokok. Mengapa tidak ada yang mempersoalkan, kuli pelabuhan didominasi oleh laki2. Perempuan dikenal sebagai makhluk yang lebih teliti dan telaten, sedangkan lelaki memiliki kekuatan fisik yang lebih besar. Berarti kan pekerjaan2 tersebut di atas sudah cocok dengan karakter masing2 ??
Janganlah merendahkan diri dengan ingin diberdayakan, ingin dipekerjakan. Kaum perempuan sama dan sederajat dengan lelaki, yang membedakan adalah peran dan tugasnya di dalam kehidupan bermasyarakat.
Menjadi perempuan, dengan perannya sebagai pengasuh pendidik anak dan mengurus rumah adalah pekerjaan yang mulia, tanpa mengenal waktu, 24 jam sehari. Malahan sekarang ini yang harus diberdayakan adalah para bapak. Masih banyak terjadi para bapak bekerja mencari nafkah di luar rumah kemudian sesampainya di rumah tinggal duduk baca koran sambil ngopi. Para bapak yang seperti inilah yang seharusnya diberi pengertian bahwa pendidikan anak akan semakin lengkap apabila beliau2 ini mau turut serta bersama istri membimbing anak2nya di saat beliau sudah di rumah.
Kesehatan perempuan terutama ibu hamil kurang mendapatkan perhatian.
Inipun adalah tugas para pekerja dibidang medic. Tugas para dokter, bidan atau mantrilah yang harus ditingkatkan untuk jeli menemukan perempuan yang sedang hamil ataupun perempuan yang dinomor duakan kepentingan kesehatannya. Dan tugas mereka jugalah mengingatkan para pasangan, suami dan istri, untuk memperlakukan istrinya yang sedang hamil dengan mendahulukan kepentingan kesehatan istrinya.
Kekerasan dalam rumah tangga lebih sering menimpa kaum perempuan.
Di negara yang berlandaskan keTuhanan ini, setiap lelaki dan perempuan yang akan menikah, harus menganut agama yang diakui oleh negara, dan pada saat membukukan janji pernikahan, mereka harus berada di dalam satu agama yang sama.
Untuk menghindari terjadinya kekerasan rumah tangga, maka ini adalah tugas para petugas di KUA dan Catatan Sipil untuk mengingatkan para pasangan agar jangan melakukan kekerasan terhadap pasangan dan anak2 mereka. Dan apabila ternyata tetap terjadi kekerasan di dalam rumah tangga, maka sudah menjadi hak mereka untuk kembali mendatangi KUA atau Catata Sipil. Karena di lembaga2 tersebut telah disediakan petugas2 yang akan memberikan konsultasi kepada pasangan yang sedang bermasalah.
Sekali lagi bukan perempuannya yang harus diberdayakan, tetapi para petugas di KUA dan Catatan Sipil yang harus ditingkatkan kinerjanya sehingga mereka bisa memberikan saran dan masukan ke pasangan yang akan mengikat janji.
Sudah menjadi tugas dari departemen2 yang telah dibentuk oleh negara untuk mengurus dan menyelesaikan bermacam problem yang ada di masyarakat. Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, Departemen Agama dll. Kalaupun dianggap perlu, cukup di dalam tiap departemen itu dibuatkan satu divisi khusus yang menangani kasus2 dengan korban perempuan.
Organisasi masyarakat atau LSM lah yang bertugas mengontrol kerja2 dari departemen2 yang terkait.
Yang terberat adalah tugas kita sebagai orang tua, mengarahkan dan mendidik anak2 untuk tidak saling membedakan antara anak lelaki dan perempuan, berilah contoh sebagai orang tua, sebagai pasangan suami istri, sebagai lelaki dan perempuan yang saling menghargai, saling menghormati tugas masing2.
Jadi, masih perlukah adanya Kementrian Pemberdayaan Perempuan ???