suara keadilan

9 juni 2009

6.27am

Pada suatu jaman, tersebutlah sebuah dusun kecil dengan penduduknya serumpun yang rukun, ramah dan saling mengenal satu sama lain berlandaskan kepentingan bersama membentuk komunitas untuk hidup, dihidupi dan menghidupi.

Dusun kecil yang menempati sewilayah dua kali perbukitan dengan tiga sumber mata air yang mengalir menuruni lembah pertemuan dua perbukitan tersebut dimana terbentang sungai berliku yang sudah tentu memberikan manfaat ke seluruh penduduk dusun dengan pengelolaan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh aparat dusun.

Pada suatu waktu, suatu ketika, berkunjunglah beberapa pemuda dari dusun lain di belahan gunung sebelah barat dan sebalik danau disebelah timur jauh. Dengan keramahan yang merupakan ciri khas penduduk dusun tersebut, disambutlah tetamu tersebut dengan pelayanan layaknya dikunjungi tamu terhormat yang tanpa diduga memberikan buah tangan berupa hasil tambang dan hasil ramuan jamu2an penawar penyakit.

Beberapa pemuda dari rombongan tetamu tersebut terpesona dengan keramahan dan kejelitaan gadis2 dusun kecil tersebut. Tanpa terasa mereka mengulur waktu kepulangan sekedar ingin lebih menikmati pemandangan indah sekliling dusun dan pemandangan penyejuk mata menikmati kejelitaan gadis2 dusun tersebut.

Syahdan beberapa pemuda yang tidak lagi merasa berkebutuhan untuk pulang kembali ke dusun asal dan keluarga mereka di seberang wilayah karena sudah menemukan tempatnya di dusun kecil terebut. Mereka memutuskan untuk tinggal, berinteraksi dan menemukan kehidupan bersama gadis pilihan mereka tanpa rasa keterpaksaan dari para gadis.

Dengan kepandaian berdagang para pemuda seberang tersebut disertai bekal trik2 yang mereka bawa dari dusun asal, berkembanglah usaha mereka dengan sukses. Satu pemuda pada suatu saat mendirikan sebuah balai pengobatan dengan obat dari ramu2an yang resepnya dia bawa dari dusun asalnya. Dan satu pemuda lagi berhasil dengan gemilang mendirikan sebuah gudang pembuatan alat2 rumah tangga yang sekaligus juga memiliki jasa pembukaan tanah baru untuk rumah tinggal.

Pada suatu saat yang tidak tepat waktunya, terjadilah pertengkaran antara pemuda pendatang dengan pemuda sesama pendatang yang merasa dirugikan dengan layanan jasa pembukaan tanah baru. Si teman yang sudah membayar jasa pembukaan tanah baru tersebut dan menanti hingga melebihi dua kali waktu perjanjian, belum juga mendapatkan tanah siap bangunnya.

Di bagian lain dari dusun kecil tersebut, di balai pengobatan milik pemuda pendatang yang lain, terjadi keributan dikarenakan seorang ibu tidak mendapatkan pelayanan dengan baik sehingga dalam tiga hari kemudian, keparahan penyakitnya semakin menjadi. Dengan masih diliputi rasa marah si ibu meninggalkan balai pengobatan tersebut dan mendatangi tetangganya yang seorang tabib dan mendapatkan kejelasan penyakit sekligus menerima pengobatannya.

Si pemuda dan ibu tersebut, dengan kepolosannya menceritakan dari mulut ke mulut apa yang mereka alami selama berbisnis dengan pemuda pendatang pemilik usaha jasa maupun pemuda pemilik usaha pengobatan tersebut.

Berita perselisihan tersebut sampailah ke aparat dusun, maka dipanggillah ke dua pemuda pendatang tersebut.

Pengadilanpun diadakan, dalam sehari itu, sekaligus dua perkara digelar.

Perkara pertama yang digelar adalah kasus ibu dengan balai pengobatan. Setelah hakim mendengarkan dengan seksama semua perkataan dari pelaku dan didukung oleh para saksi, sudah jelas terlihat bahwa pemuda pendatang tersebut kurang memperhatikan kepetingan ibu yang sedang sakit itu.

Palu diketuk dengan keputusan, pemuda pendatang mendapatkan denda membayar ganti untung ke ibu tersebut termasuk harus memberikan pelayanan kesehata gratis selama dua kali bulan punrama kedepan dan menerima surat peringatan untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan.

Kemudian berlanjut dengan perkara kedua. Kembali sesudah para pelaku dan saksi memberikan keterangannya, hakim memutuskan bahwa pemuda pendatang penyedia jasa pemukaan tanah barupun melakukan kesalahan, dikarenakan belum juga menyerahkan tanah siap bangunnya.’

Kembali palu diketuk dengan keputusan, pemuda pendatang mendapatkan denda memberikan sejumlah hasil tambang sebagai ganti untung untuk waktu yang terbuang menanti siapnya tanah termasuk segera menyerahkan tanah siap bangun yang sudah dibayar dan juga menerima surat peringatan untuk tidak melakukan kesalahan seperti itu lagi.

Keadilan yang ditegakkan di dusun kecil tersebut, merupakan hasil dari nilai2 moral yang ditanamkan oleh para tetua penduduknya dan terus menerus diturunkan ke anak cucunya dan kemudian mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai penduduk dusun terutama oleh para aparatnya.

Banner yang terpasang di balai dusun, merangkap balai keadilan adalah

banner posting

 Dongeng khayalan tercipta beralaskan keprihatinan terhadap kasus2 yang sedang marak.

About ami

kami ingin berbagi cerita kehidupan, gagasan dan peluang berkarya. terima kasih kepada yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membuka halaman blog kami. salam Lihat semua pos milik ami

20 responses to “suara keadilan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: