sudah 18 tahun


13 april 2009

9.56pm

Delapan belas tahun yang lalu tepat sekitaran waktu yang tertulis di atas aku menerima telpon dari kerabatku yang tinggal di Bandung dengan berita yang amat memukul yaitu berpulangnya papa ke sisi Allah SWT 15 menit sebelumnya.

Papa adalah seorang ayah yang tidak tergantikan. Begitu penyabarnya papa sehingga selama hidupnya aku belum pernah merasakan kemarahan yang ditumpahkan ke anak2nya. Kepergian papa amat terasa karena sosok pelindung yang selama hayatnya beliau perlihatkan kepada kami kedua putrinya tiba2 hilang. Ada saat2 dimana aku amat merindukan kehadiran papa yang adalah satu2nya laki2 di dalam keluarga.

Ke empat cucunya tidak ada satupun yang sempat mengenal Eyang Kakungnya. Papa meninggalkan kami tepat saat kehamilanku baru berusia satu bulan.

Terbiasanya kami melihat meja gambar yang terbentang di ruang kerja papa dan koleksi buku bertema arsitekur juga seni yang tertata berjajar pada rak2 buku di rumah dimana setiap saat kami bisa membacanya, pada akhirnya tanpa ada paksaan dan merupakan pilihanku yang tidak pernah aku sesali, aku memilih jurusan yang sama dengan papaku, demikian juga dengan adikku, diapun memilih jurusan yang tidak jauh bereda dengan pendidikan papa.

Pada masa kuliah, sudah tentu banyak hal yang aku tanyakan ke papa mengenai mata-kuliah2 yang aku ambil dan kemudian papa akan menjelaskan secara garis besar sehubungan dengan hal yang aku tanyakan selanjutnya beliau akan memberikan sederet judul buku yang harus aku baca untuk memahami lebih detil mengenai hal yang tidak aku mengerti tersebut. Yaaaah harus mencari sendiri?? aku menanyakan ke papa, ‘kenapa ngga langsung aja papa kasih tau aku bagaimana detilnya’, papa menjawab, ‘papah dulu kuliah tidak ada yang membimbing di rumah, harus mencari sendiri sumber dari perpustakaan atau meminjam teman dan mempelajarainya sendiri, sekarang ini ami juga harus membiasakan diri untuk menemukan jawaban sendiri’. Hehehehe –sekarang aku bisa tertawa tetapi pada waktu itu aku bersungut-sungut, ‘maafkan pa’- hingga hari ini aku tidak pernah melupakan perkataan papa tersebut.

Dukungan begitu tinggi terhadap studiku diperlihatkan dengan papa berlangganan majalah arsitektur dari luar negeri dimulai tepat satu tahun sebelum jadwalku menempuh tugas akhir. Sudah tentu majalah2 tersebut terbukti amat berguna sebagai referensi pada saat aku mengerjakan proyek akhirku. Bisa dibayangkan tahun segitu, di kota kecil, berlangganan majalah arsitektur dari luar, berapakah biaya yang harus disisihkan.

Dengan kesabaran papa, setiap kali aku mengerjakan tugas hingga larut malam, papa selalu menyempatkan untuk menungguiku hingga lewat tengah malam. Beliau menyibukkan diri di dalam ruang kerjanya yang bersebelahan dengan ruang belajarku. Apabila pada akhirnya aku yang tidur terlebih dahulu, maka pada pagi hari saat aku membereskan meja gambar, selalu ada note secarik kertas dengan ulasan dan usulan papa untuk memperbaiki tugas2ku. Sungguh amat menyesal aku tidak pernah mengingat untuk menyimpan carikan2 kertas dengan tulisan papa yang khas itu. Penyesalan yang belum bisa aku hilangkan hingga hari ini.

I miss you very much.


About ami

kami ingin berbagi cerita kehidupan, gagasan dan peluang berkarya. terima kasih kepada yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membuka halaman blog kami. salam Lihat semua pos milik ami

13 responses to “sudah 18 tahun

  • suryaden

    semoga ayahanda selalu mendapatkan cinta dan rahmat di SisiNya, semoga juga yang ditinggalkan selalu mengirimkan doa sebagai tanda cinta yang dibutuhkannya di sana,…
    ***
    amien, maturnuwun

  • Mahendra

    Sudah menjadi hukum alam bahwa setiap anak perempuan dekat dengan ayahnya. Begitu pula sebaliknya ibu dekat dengan anak lakinya.

    Normalnya setiap ayah akan selalu terdorong untuk melindungi anak perempuannya lebih dari anak lakinya. Bukan karena dia tidak sayang dengan anak lakinya, tapi karena dia tahu dia sudah mewariskan sebagian kekuatannya kepada anak lakinya.

    Demikian pula seorang ibu yang lebih menyayangi anak lakinya. Bukan karena dia tidak menyayangi anak perempuannya, tapi karena dia tahu dia sudah mewariskan welas asih kepada anak perempuannya.

    Setiap ayah cenderung mendidik anak lakinya lebih keras dari anak perempuannya. Bukan karena dia lebih sayang kepada anak perempuannya, tapi karena dia ingin anak lakinya menjadi lebih baik dari dirinya sebagai laki-laki.

    Demikian pula seorang ibu dalam mendidik anak perempuannya. Bukan karena dia lebih sayang kepada anak lakinya, tapi karena dia ingin anak perempuannya menjadi lebih baik dari dirinya sebagai perempuan.

    Saat-saat seperti ini biarlah dikenang dengan memanjatkan doa sebagai bentuk puji syukur dan rasa terima kasih atas begitu besarnya kasih sayang yang telah beliau berikan.

    Ketika semua kenangan indah tersimpan rapi di dalam hati sanubari, tak perlu lagi rasanya ada penyesalan karena lupa untuk menyimpan carikan2 kertas tulisan tangan beliau.

    Karena rasa cinta dan kasih sayang itu tetap akan ada selamanya…
    ***
    matur nuwun

  • S.A

    Semuanya demi cinta, hari terpenting pun selalu disimpan dalam loker hati, semuanya demi cinta. doa yang teriring dengan lantunan syahdu itu pun untuk cinta…. dan cinta untuk yang tercinta takkan pernah selesai, walopun waktu dan hari merangkak untuk selesai…

    semoga doa-doa Mbak Ami selalu menjadi cinta terindah buat Bapak mbak Ami..
    ***
    amin, matur nuwun

  • ArtaSastra

    Wew..
    Jgn lupa selalu di doakan..
    Beruntungnya manusia yg pernah merasakan..
    Kehadiran ayah..
    ..
    Tetap sanjung beliau ya bro..😉
    ***
    iya ya beruntung. mendoakan sudah pasti. terima kasih kunjungannya

  • Xitalho

    Aku mungkin tidak memilikki Bapak sesabar papa sampeyan mbak.. tapi aku koq tetap merasa bangga ternyata didikan keras almarhum bapakku justru membuatku mengerti akan kelembutan dan kesabaran seorang ayah yang dibutuhkan oleh anak-anakku sendiri.

    **Gampange ngene ae : kalo aku pernah sengsara karena orang tuaku pemarah umpamane… berarti anakku juga sengsara lek aku ngamukkan.
    ***
    apik mas, kadang malah sebaliknya loo, karena diperlakukan keras terus mengerasi anak2nya juga. sepengetahuanku sekarang dah ga jamannya mendidik anak dengan keras. yang diperlukan ketegasan

  • lescaboma

    papa yang luar biasa…
    ga semua orang seberuntung njenengan…🙂

    may he rest in peace yaa…
    amin.
    ***
    amin, matur nuwun ya

  • ekaria27

    may he rest in peace…
    jadi inget bapak..
    salam kenal mbak
    ***
    amin, terima kasih ya. salam kenal kembali eka

  • cahayadihati

    halo mbak, lama gak maen kemari…

    saya dekat dengan dua2nya ya mami ya papi. Papi juga penyabar tapi kalau sudah marah, marahnya huebat, bisa nangis 7hari 7 malam saya kalau kena marah papi😀

    Saya malah lebih sekat sama kakung, beliau selalu memberi nasehat2 waktu saya kecil. Tapi gak pernah digagas hahaha…dasar anak nakal.

    Tapi sewaktu besar ko’ malah nasehat2 kakung seperti film yang diputer didepan mata saya…

    hehe malah curhat…

    Semoga Papa tenang dan mendapat tempat yang indah disana. Amin

    GBU mbak
    ***
    eeh yaya, pa kabar nih, dah ada postingan barukah?
    beruntung yaya kenal ma kakung, aku ngga sempat juga kenal kakungku. denger2 dari temen2 sih, kakung memang biasanya bisa memberi nasehat2 yang bijaksana dan berguna. iya lah dengan umur yang segitu pasti sudah banyak mengenal asam garam kehidupan yah.
    amin, thanks ntar aku main kesana yah

  • kejujurancinta

    alhamdulillah saya masih mempunyai orangtua yg lengkap
    sampai saat ini saya tidak kehilangan kasih sayangnya

    senantiasa doakan papamu mbak
    walaupun dia sudah kembali kepadaNYA
    ***
    beruntung ya masih ditunggui orangtua lengkap. iya mbak pasti aku mendoakan

  • dyahsuminar

    mbak Ami….
    dari fotonya…mbak Ami sangat mirip dengan papa ya…
    dan ternyata,kata mas Mahendra betul…anak perempuan selalu dekat dengan ayahnya…soalnya mungkin ibu terlalu cerewet sehingga anak perempuan lebih suka dengan sikap ayahnya…he..he…
    Ayah mbak Ami….pasti bahagia karena memiliki putra/putri yang sangat menghargai dan selalu mendoakan orang tuanya.
    ***
    bunda, hehehe iya banyak yang mengatakan seperti itu, saya mirip dengan papa. terima kasih tanggapannya. salam

  • p u a k

    Mbak, aku ada sesuatu untuk mu di sini, tolong diambil segera ya, …

    Ditunggu, mbak!
    Puak!
    ***
    wussss terbang!!

  • p u a k™

    Hihihi.. maaf mbak’e, pagenya ke protect.. copy award dari disini: http://muzdalifah-muhlan.blogspot.com/.

    Monggoo..:mrgreen:
    ***
    manuuut🙂

  • galuharya

    bapak saya tak sebaik bapak mbak ami😦

    jadi rindu sama bapakku yang sampai saat ini tak tau dimana keberadaanya😦
    ***
    duuh, semoga suatu saat bisa ketemu ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: