emansipasi


6 maret 2009

9.39am

gi_geregetan

Kemarin pagi ibuku pergi ke kantor Kelurahan untuk meminta tandatangan pejabat Lurah pada berkas pengurusan pensiun beliau –menggunakan becak karena lokasinya yang cukup jauh apabila ditempuh dengan berjalan kaki-. Beliau membutuhkan tandatangan dari pejabat setempat sebagai bukti bahwa beliau masih hidup yang berarti masih berhak menerima dana pensiun dari pemerintah. Beliau pulang dengan tangan kosong dikarenakan pejabat Lurah sedang tidak ada ditempat –dah umum niy- dan beliau diminta untuk kembali pada siang harinya.

Siang hari seperti yang diminta oleh petugas Kelurahan, ibuku bersiap-siap untuk berangkat akan tetapi iklim Bandung tidak mengijinkan beliau berangkat karena dari hawa yang panas tiba2 turun hujan deras disertai petir menggelegar –sampai2 aku matikan tv dan kompi, karena pernah mengalami tv rusak dan modem jebol tersambar petir-.

Ok, ibuku tidak jadi berangkat –ra mbelani mung njukuk herek2 ttd pejabat Lurah-. Walhasil baru pagi ini beliau berangkat lagi ke Kelurahan pada sekitar pukul 9.30. Hlah, kembali pulang dengan hampa karena ternyata seharian kemarin hingga jam tutupnya kantor Kelurahan, pejabat Lurah yang terhormat tidak masuk! –memang Tuhan maha Adil kemarin siang mengirimkan hujan lebat dan petir-. Oleh pegawai yang sedang piket, ibuku diminta untuk datang lagi sejam kemudian sekitar pukul 10.30 disebabkan hari ini adalah hari Jumat nb. hari krida –betulkah, masih adakah istilah ini?-

Dan yang menjengkelkan sekali, ternyata pejabat Lurah tersebut adalah seorang ibu yang baru saja sebulan lalu melahirkan, dan menurut bapak petugas, ketidakhadiran ibu Lurah kemungkinan sedang mengurus bayinya atau sedang menyusui bayinya. -!!!-

Haduuuuh perempuan Indonesia, bagaimana ini bisa terjadi!! Emansipasi jelas sah2 saja, tapi kalau kejadiannya seperti yang diatas, bapak/ibu sepuh2 yang butuh oretan tandatanganmu harus mendatangimu sampai beberapa kali!!

Inilah contoh keinginan emansipasi wanita yang tidak pada tempatnya, karena menguntungkan diri sendiri tetapi merugikan orang banyak!!

Aku bukanlah perempuan yang anti emansipasi. Tetapi kita dilahirkan sebagai perempuan, bukan laki2 yang dari struktur badan berbeda sekali dan dengan fungsinya yang juga amat berbeda. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mempercayai keberadaanNya, hargailah struktur badan yang kita miliki ini. Sebagai perempuan yang sudah memiliki suami, dengan keinginan membina keluarga lengkap –maksude pingin duwe anak ngono looo-, cobalah untuk mempertimbangkan keemansipasiannya dengan fungsi diri keperempuanannya. Satu satu lah keinginannya itu diwujudkan. Anak2 tidak selamanya membutuhkan didampingi ibunya 24 jam dalam sehari.Ada waktunya, sebagai kaum perempuan yang ingin menduduki tempat sejajar dengan kaum lawan jenisnya, kita bisa mewujudkan keinginan itu tanpa meninggalkan prioritas keperempuanan kita yang adalah ciptaanNya. Berbanggalah menjadi perempuan yang memang diciptakan berbeda dengan laki2. Jok atik macem2 lah.

Gregetan sekali saya hari ini.

About ami

kami ingin berbagi cerita kehidupan, gagasan dan peluang berkarya. terima kasih kepada yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membuka halaman blog kami. salam Lihat semua pos milik ami

5 responses to “emansipasi

  • suryaden

    wadooh…
    datengin aa kerumahnya, mungkin sistem kelurahan yang masih bias gender saja, harusnya kan ada wakilnya ato gimana gitu ya…
    ***
    siapa yg dilayani siapa yg melayani niy

  • p u a k

    Pejabat ngurus anak di rumah, masak sih mbak, nggak ada yang gantiin di kantor?..
    Aneh deh. Masak orang yang lagi butuh jasanya nunggu dia selesai ngurusin kerjaan rumahnya.. please deeh..
    ***
    kecian yang sepuh2 kaaan, ga cuma seorang yg nunggu. terlalu

  • edratna

    Kita bisa melihat dari sisi pandang yang lain. Kalau kita kerja, kebetulan anak sakit, dan harus dibawa ke dokter, apalagi musim DB, terpaksa kita ijin dulu kan?
    Dan kalau hari itu belum berhasil, bisa besoknya datang lagi…..dan sebaiknya kita mengenal para pegawai disitu, kalau kita baik, mengajak mengobrol mereka, maka mereka nanti akan ngasih nomor hape, sehingga kita bisa punya teman disana.

    Saya di Jakarta mudah kok menghubungi kelurahan, karena ada teleponnya, dan juga karena selama ini saya mengurus sendiri sejak awal (saya ijin kantor), saya nyaris kenal semua pegawainya. Jadi saya bisa mudah menitip pesan….
    ***
    begitu ya bu. terima kasih ceritanya

  • lescaboma

    aku yo melu2 geregetan…
    bukannya jatah cuti melahirkan itu 3 bulan ya?
    mestinya kan selama masa cuti melahirkan itu ada pejabat lain yang menggantikan kan ya? jadi bayi tetep keurus, masyarakat juga ga ada yang keteteran…

    apa kita ganti aja presidennya?😀
    ***
    horeeee geregetannya ada temennya. iya itu mestinya ada pejabat sementara atau apa lah

  • Hejis

    wah repotnya ngurus tanda tangan…

    Salam hangat, salam kenal…😀
    ***
    kasihan yang sepuh2 pak. salam hangat dan kenal kembali🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: