pilih siapa II

 19 januari 2009
3.43pm

‘jadi gimana solusinya bang, untuk membuat rakyat menyadari bahwa kampanye ‘gratisan’ itu malahan yang jangan dipilih ?’

Pertanyaan itu saya sampaikan melanjutkan komentar di postingku ‘Pilih Siapa‘ dan inilah jawaban dari bang Mahendra.
Ada dua pilihan solusi yang bisa dilakukan:     
1. Ada sekelompok orang yang sering diistilahkan creative minority yang mengambil prakarsa untuk terjun langsung dalam proses pemberdayaan rakyat secara komprehensif. Artinya, pemberdayaan rakyat yang dilakukan tidak hanya pada aspek politik, tapi juga ekonomi dan budaya.
2. Rakyat secara otodidak harus belajar secara cepat dari proses politik yang ada sehingga mampu bersikap lebih kritis terhadap kekuasaan. Ini memang perlu waktu, namun cepat atau lambatnya sangat tergantung sejauh mana rakyat mau mengambil pelajaran dari setiap proses politik yang terjadi.

Walaupun apresiasi politik meningkat tapi itu juga tidak berarti rakyat tahu apa yang harus dilakukan. Proses pembodohan politik di era Soeharto benar-benar sudah meracuni rakyat. Yang paling parah teracuni adalah mentalnya. Karena banyak juga mereka yang sebenarnya paham politik tapi lebih memilih bermain ‘aman’.

Tentu alasannya sangat klasik.., mereka tidak ingin wilayah domestik (keluarga)nya terganggu secara ekonomis.

Yaaahhh.., memang pada akhirnya ini soal keterpanggilan, bukan lagi soal ngerti atau tidak ngerti politik. Semoga saja kelompok creative minority akan segera muncul dan menjadi avant garde untuk membawa perubahan yang lebih baik.

 

Katanya ‘dunia ini adalah panggung sandiwara’. Dan salah satu panggung yang banyak menyedot penonton adalah ‘panggung politik’. Panggung dimana para pemainnya adalah aktor dan aktris, dengan sutradara, pengatur gerak, pengatur suara, pendekor panggung yang sudah tentu faham dan penggelut di dunia politik.

Sudah tentu sebuah pertunjukan tidak ada artinya tanpa penonton, yang menyoraki, mengikuti jalannya pertunjukan, kadang ikut nyletuk mengomentari, atau melempari dengan tomat busuk seandainya tidak memuaskan. Jika penonton diminta ikut naik panggung atau mengobrak abrik panggung dikarenakan pemain tidak melakoni perannya dengan benar dan kemudian menggantikan peran para pemain, lalu bagaimana dengan kelangsungan aspek2 kehidupan lain yang ada di sebuah negara?. Aspek ekonomi, budaya, pendidikan dan lain2, dimana para pemain di luar pemain panggung politik akan berperan sebagai penonton pada saat panggung politik sedang mengadakan pertunjukan. Bukankah tidak hanya tatanan di panggung politik yang berantakan tetapi berimbas juga ke panggung2 lainnya karena para pemain yang berperan sebagai penonton pada saat terjadi pertunjukan politik, dengan sendirinya akan meninggalkan perannya di panggung sandiwara yang seharusnya dilakoninya.

Sekarang ini yang sedang di tonton oleh ‘rakyat’ adalah panggung ‘politik’ dengan artis dan pengatur lakon yang kebanyakan adalah pemain senior, meskipun bermunculan pemain2 muda, baru ataupun karbitan dengan beragam latar belakang pengetahuan mengenai seluk beluk panggung khususnya panggung poitik.

Setiap warga di sebuah wilayah kenegaraan sudah tentu memiliki perannya masing2, dengan wilayah peran yang terbatasi oleh pengetahuannya mengenai satu aspek dan mengenal aspek lain dari sudut pandang sebagai penonton.

Jika memang panggung politik sudah tidak menarik lagi untuk di tonton apalagi setelah penonton meneriaki dan melempari tomat busuk akan tetapi para pemain di panggung masih juga dengan kepercayaandirinya tetap melakoni peran seenaknya, yang terbaik ya tinggalkan saja tontonan itu. Jadilah para ‘penonton’ alias rakyat menjadi golongan tidak memilih, golongan putih atau golput dan para warga negara –rakyat- masih dapat tetap menjalani perannya masing2 tanpa harus meninggalkan perannya untuk turut mengambrukkan panggung politik.

Para creative minority seperti disebutkan oleh bang Mahendra memang sudah waktunya muncul di panggung yang mereka buat untuk mengingatkan para pemain politik maupun para pemain peran lain –rakyat- yang pada saat para creative minority ini menggelar pertunjukan maka para pemeran dari panggung lainnya bertempat di bangku penonton bahwa tontonan politik yang ada sekarang ini bukanlah sebuah tontonan yang layak untuk diikuti. Sekarang ini sudah waktunya para creative minority ini untuk menunjukkan kemampuan dan kepiawainya dalam melakoni perannya untuk menarik sebanyak mungkin penonton dan kemudian meninggalkan floor panggung politik yang sudah tidak layak lagi untuk di tonton itu.

Dari sekelompok pelopor creative minority saya yakin dengan kepiawaiannya akan dapat menarik minat kalangannya sehingga berani tampil dan berani merebut perhatian dari penonton panggung politik berpindah menjadi penonton di panggung mereka.

Mari tunjukkan kepiawaianmu hai para creative minority !! jangan hanya bisa menunjuk ke rakyat –karena rakyat sudah terbebani dengan akibat dari permainan politik yang kotor, mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarganya, ‘mereka tidak ingin wilayah domestik (keluarga)nya terganggu secara ekonomis’-, memutar roda2 aspek kehidupan di luar politik- mengapa lagi masih harus turut aktif menjadi pemain di panggung sandiwara politik.

Tidak bisa dipungkiri sepenting apapun kerja yang dilakukan, tanpa jasmani yang sehat dan kuat, tidak akan bisa terwujud cita2 mulia memperbaiki kehidupan rakyat negeri ini.

Wehehehe gak cerdas kali ya tulisannya, tapi itulah suara rakyat yang bukan pemain di panggung politik. Salam

About ami

kami ingin berbagi cerita kehidupan, gagasan dan peluang berkarya. terima kasih kepada yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membuka halaman blog kami. salam Lihat semua pos milik ami

3 responses to “pilih siapa II

  • Mahendra

    Aku yang pertama yaaa….😉
    ***
    hlo ada lomba lari lagi toooo🙂

  • Mahendra

    Setuju banget.., penonton perlu panggung lain yang lebih bermartabat sebagai alternatif atas kejumudan situasi dan kondisi yang ada.

    Perlu ‘ice breaking’ yang kreatif, berani dan orisinal untuk bisa keluar dari labirin persoalan bangsa yang sangat kompleks dan multi dimensional.

    Rakyat berhak untuk mendapatkan pilihan yang lebih baik bagi masa depan mereka sekaligus sebagai pembelajaran bahwa masa depan mereka sesungguhnya ada di tangan mereka sendiri.

    Semoga Tuhan memberikan lindungan dan kekuatan kepada para creative minority agar mereka bisa segera berkarya untuk kemaslahatan umat, rakyat, bangsa dan negara.

    Terima kasih atas ulasan yang diberikan khusus terhadap komentar saya. Keep smart and beautiful…:) Tabik…😉
    ***
    salam saya untuk teman2 di creative minority ya bang

  • suryaden

    betul sekali, andaikata para creative minority itu mau unjuk gigi, namun trauma dan olahan pendidikan yang diterima memang tidak mengarahkan mereka ke panggung tersebut, sehingga kadang kemuakan mereka masih ada, dan memilih jalan yang lain untuk mendermakan dayanya kepada masyarakat luas, dan menjadi backup yang siap setiap saat tanpa menggunakan bendera-bendera yang masih mengharubirukan pandangannya kepada panggung tersebut.

    tulisan diatas sangat menyegarkan sekali….
    ***
    itulah mas, tapi kalau bendera2 yang ada sekarang ini sudah compang camping, aku rasa golongan creative minority sudah waktunya untuk berani tampil dan merebut perhatian rakyat. naaa ‘aku2’ ini yang rakyat biasa yang akan memback up. bagaimana kalau begitu? terima kasih mau mampir dan berkomentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: