pilih siapa


17 januari 2009

9.52am

Pagi ini pada waktu sedang sibuk di dapur bersama si yuk, kami membahas mengenai pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung. Ibuku mengatakan bahwa beliau lebih baik di rumah saja karena merasa bukan pendukung dari salah satu calon presiden. Hloo, kami segera menimpali bahwa pemilu yang akan diadakan pada bulan april ini belum pada tahap pemilihan untuk presiden dan wakilnya. Kami menjelaskan lebih lanjut bahwa bulan april itu baru pada tahap pemilihan anggota dprd dan dpr -betul apa tidak ya?-. Kemudian dengan nada meyakinkan si yuk turut berbicara, dia mengatakan bahwa dalam minggu depan ini kami semua akan mendapatkan pembagian kalender gratis dari partai2. Kalender? Si yuk melanjutkan bahwa di kalender itu akan terpampang foto para calon dari sebuah partai dan kita akan mendapatkan beberapa kalender sebanyak partai yang ada. Oooo, saya dan adek menyahut. Kemudian dia bercerita lagi bahwa salah satu tetangga kami kemarin mengadakan sesi foto. Haah pak ‘anu’ calon anggota? Kembali jawab si yuk, “bukaaan pak ‘anu’ itu nanti yang tugasnya memberi tahu ke orang2 bagaimana tata cara pencoblosan” –maksudnya mungkin anggota kpp-. Oooo, saya dan adek menyahut lagi. Tiba2 muncul suami yang menanyakan ke yuk, “nanti kamu milih siapa?” Jawab si yuk, dia akan memilih calon yang membagikan obat gratis. Oooo, kembali aku dan adikku menyahut.

Ternyata gaung pemilihan umum yang katanya adalah pesta rakyat, pesta demokrasi itu memang sudah mencapai masyarakat. Tetapi baru sampai di ‘pembagian kalender dan pembagian obat’ gratis yang mereka fahami.

About ami

kami ingin berbagi cerita kehidupan, gagasan dan peluang berkarya. terima kasih kepada yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membuka halaman blog kami. salam Lihat semua pos milik ami

3 responses to “pilih siapa

  • suryaden

    dan jadinya orang-orang yang paham tentang situasi scam politik seperti ini malah terkalahkan dengan jumlah suara yang bisa di tipu tersebut, celaka memang…, karena walopun suaranya dibeli cuma dengan kalender dan uang duapuluh ribu… bisa menjadikan legitimasi yang kuat bagi yang dipilih.

    dan begitulah hal ini akan berkeseinambungan, karena pemiskinan dan pembodohan yang tidak terbendung….
    ***
    iya itu, dan siapa yang mau menjalani kampanye politik dengan membodohi seperti itu, rasa2nya kalau dah berkuasa tetep aja dengan kelakuannya, tetep bakal membodohi rakyatnya. piye ngono iku solusine mas?

  • Mahendra

    Itulah potret masyarakat kita… Ketika mereka belum memahami benar apa itu demokrasi, justru mereka dipaksa untuk berdemokrasi.

    Seperti yang saya katakan di dalam salah satu tulisan saya di blog, rakyat akhirnya cuma dihadirkan 5 tahun sekali melalui Pemilu untuk memberi stempel demokrasi kepada kekuasaan baru yang terpilih untuk mengurus negara.

    Untuk kemudian mereka harus menjalani kehidupan mereka tanpa sedikitpun kepedulian dari kekuasaan yang terpilih.

    Ironis bukan???
    ***
    jadi gimana solusinya bang, untuk membuat rakyat menyadari bahwa kampanye ‘gratisan’ itu malahan yang jangan dipilih?

  • Mahendra

    Ada dua pilihan solusi yang bisa dilakukan :
    1. Ada sekelompok orang yang sering diistilahkan creative minority yang mengambil prakarsa untuk terjun langsung dalam proses pemberdayaan rakyat secara komprehensif. Artinya, pemberdayaan rakyat yang dilakukan tidak hanya pada aspek politik, tapi juga ekonomi dan budaya.
    2. Rakyat secara otodidak harus belajar secara cepat dari proses politik yang ada sehingga mampu bersikap lebih kritis terhadap kekuasaan. Ini memang perlu waktu, namun cepat atau lambatnya sangat tergantung sejauh mana rakyat mau mengambil pelajaran dari setiap proses politik yang terjadi.

    Walaupun apresiasi politik meningkat tapi itu juga tidak berarti rakyat tahu apa yang harus dilakukan. Proses pembodohan politik di era Soeharto benar-benar sudah meracuni rakyat. Yang paling parah teracuni adalah mentalnya. Karena banyak juga mereka yang sebenarnya paham politik tapi lebih memilih bermain ‘aman’.

    Tentu alasannya sangat klasik.., mereka tidak ingin wilayah domestik (keluarga)nya terganggu secara ekonomis.

    Yaaahhh.., memang pada akhirnya ini soal keterpanggilan, bukan lagi soal ngerti atau tidak ngerti politik. Semoga saja kelompok creative minority akan segera muncul dan menjadi avant garde untuk membawa perubahan yang lebih baik.

    Semoga… Tabik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: