perempuan


perempuan_jawa

17 januari 2009

8.27pm

Hari ini aku membaca postingan mas Suryaden mengenai perempuan, dengan komentar yang mencapai 50 lebih. Aku pernah membaca buku tentang perempuan Jawa – hla ini dari tadi nginget2 judulnya dan pengarangnya kok ngga inget juga-. Yang aku tangkap inti dari buku itu salah satunya adalah, bahwa jaman dahulu kala, kedudukan perempuan Jawa itu tidak lebih rendah dan tidak lebih tinggi dari lelaki Jawa – hnaaa too, hebat tenan lo wong Jowo.

Dari mana hal itu bisa dicermati? Begini kata buku itu, di dalam sebuah keluarga kan terdiri dari suami, istri dan anak –berapa anak ya terserah si pasangan to-. Naaa suami dan istri itu sama2 bangun pada pagi hari, subuh lah. Kemudian, si istri berangkat menuju ke pasar untuk menjual hasil kebunnya dan membeli keperluan keluarganya se hari2, atau barter kali yaaa dengan sesama perempuan yang ngumpul di pasar. Sedangkan sang suami di rumah mengurus dan menemani anak2nya. Naaa sesudah urusan pasar jual beli selesai, si istri akan pulang kemudian bergantilah sang suami pergi ke ladang atau pekarangan atau sawah – kalau nelayan ya melaut kali yaaa- untuk mengurusnya sekaligus memanen apa yang ditanamnya –kalau nelayan ya menangkap ikan to, mosok manen padi di tengah laut-. Sementara itu si istri bebenah rumah sambil mengurus dan menemani anak2 yang pada pagi hari ditemani oleh ayahnya. Menjelang maghrib pulanglah si suami dengan membawa hasil panen yang pada keesokan paginya akan di bawa oleh si istri ke pasar untuk barteran atau jual beli dengan perempuan2 yang lain.

Silahkan diperhatikan peran suami dan istri dalam hal ini, berapa lama mereka di rumah, berapa lama mereka di luar, berapa lama mereka mengurus anak2nya, berapa lama mereka berkumpul sebagai sebuah keluarga yang lengkap, apa nggak bisa dibilang semua itu dalam keadaan seimbang??

Jadi sebetulnya wong Jowo -Hiduuuup Wong Jowo- itu tidak merendahkan kedudukan perempuan, karena ya itu tadi, di antara suami dan istri pembagian tugasnya merata. Hebat kaan? Apa iya pengertian mengenai kedudukan keseimbangan antara perempuan dan lelaki yang pada jaman dahulu kala sudah diterapkan, hari gini malah diabaikan? Kita ini sebetulnya jauh lebih beradab dari pada bangsa kulit putih ataupun bangsa Arab yang amat merendahkan posisi perempuan. Begitu kan.

About ami

kami ingin berbagi cerita kehidupan, gagasan dan peluang berkarya. terima kasih kepada yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membuka halaman blog kami. salam Lihat semua pos milik ami

6 responses to “perempuan

  • suryaden

    postingan yang sangat indah sekali,
    memang benar, jika semuanya dilakukan dengan komitmen bersama, sesuai apa porsi yang dimilikinya, akan menghasilkan harmoni, dan sinergi yang positif, meskipun prahara ekonomi kadang bergolak namun jika harmoni sudah terwujud niscaya akan aman, terhindar dari bias-bias perilaku yang menimbukan kekerasan dalam rumah tangga.
    Meskipun begitu payung dari negara terhadap perempuan harus ada sebagai jaminan.

    Wakaka… kalo dengan orang kulit putih maupun arab ya saya setuju …jelas lebih baik, lha wong… di sini nggak ada sejarahnya melukai apalagi memerangi Nabi utusan Tuhan.
    ***
    setuju. matur nuwun diluangkan waktu tilik tulisan saya. salam

  • Mahendra

    Waaaahhh…, kedisikan meneh karo Suryaden… Jadi lupa mau komentar apa…

    Sik tak eling-eling disik…😉
    ***
    hayooo mana komentarnya, ditunggu yaa🙂. terima kasih mau menengok tulisan saya. salam

  • Mahendra

    Waaaah wis…., tambah lali arep komentar opo…, iki mau bar diseneni bojoku goro-goro gelase ora tak isi banyu ngombe… Hihihihi… Nasib… nasib…🙂
    ***
    wah bang, kalau gitu istrinya diperhatiin dong sekali2, jangan di depan kompu mulu😉

  • edratna

    Sebetulnya tak hanya perempuan Jawa, tapi juga perempuan Minang, Aceh, Bali, Bugis dsb nya (tak perlu saya sebut satu per satu). Jadi sebetulnya pembagian peran adalah didasarkan kesepakatan suami isteri…yang bikin heboh kan dari kalangan bangsawan, yang isterinya hanya dirumah, berhias, dan suami yang bekerja mencari penghasilan. Masih bagus kalau suami baik pada keluarganya, tapi ada suami yang selingkuh, beristeri lebih dari satu (hanya karena menurut agama diperkenankan…padahal siapa sih yang bisa adil, kan adil menurut suami itu).

    Kemudian ada juga kaum lemah (bukan soal kaya miskin lho), perempuan yang tergantung pada suami, bahkan dipukuli juga mau, hanya atas nama agar keluarga utuh dan tidak cerai, agar keluarga tidak malu.
    Hmm menurut saya yang diperlukan adalah perempuan yang mandiri, yang bisa mengemukakan pendapatnya, namun tetap bersikap sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya, dan isteri yang baik bagi suaminya. Dengan demikian isteri akan sejajar dengan suami, dan suami juga bangga, serta tak bisa berbuat seenaknya dengan melakukan KDRT.
    ***
    bu mungkin pada intinya kalau sesama manusia -perempuan atau lelaki- bisa saling menghormati, maka saling menindas, saling memanfaatkan juga tidak ada ya. terima kasih kunjungannya. salam

  • wyd

    tergantung ngelihatnya dari sisi mana dan kategori apa yang dipakai, mbak…
    kacamata tiap orang kan beda2.
    ada yang minus 1/2, ada yang tebeeell banget.
    segala argumen mbak akan bisa diterima oleh orang yang menempatkan diri seperti mbak.

    dalam kehidupan saya, masalah gender ga pernah ada
    ***
    sama ibu masalah gender saya juga tidak merasakan. apalagi kebetulan saudara saya hanya satu dan perempuan juga, papa saya demokratis, sekarang ini suami juga bukan tipe ‘penjajah wanita’🙂. suatu kehormatan ibu bersedia mengomentari di halaman saya, terima kasih

  • endang

    Trima kasih atas kunjungan Mbak Ami, salam kenal, semoga sukses dan kebahagian menyertai keluarga. Amien
    ***
    amien, terima kasih mba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: