api unggun


 

kiri atas, pemandangan dari bukit di lokasi rumah peristirahatan, terlihat terbentang kota Bandung

kanan atas, marshmallow kakak yang masih membara sesudah sedikit terbakar

bawah, keluarga Mahendra duduk di lincak bamboo di samping api unggun yg mulai meredup

 

30 desember 2008

4.58pm

Sesudah makan siang pada tanggal 28, berangkatlah ibu dan adikku bersama anak2nya dengan tidak ketinggalan anjing kami, si Pablo diantar oleh suamiku menuju rumah perisitrahatan milik keluarga di desa Mekar Wangi. Kakak berangkat menggunakan sepeda motor mendahului keberangkatan rombongan.

Aku dan Ega membereskan rumah terlebih dahulu sebelum kemudian di jemput oleh suamiku untuk menyusul menuju rumah peristirahatan. Lokasi rumah peristirahatan tersebut tidaklah jauh dari rumah kami, hanya membutuhkan waktu tempuh tidak lebih dari 30 menit. Tetapi pada hari minggu itu, jalanan di kota Bandung amatlah padat. Seperti yang diceritakan oleh suamiku, mulai dari jalan Pasirkaliki kemudian Pasteur dan berbelok menuju jalan Dago lalu lintas amatlah padat. Sepanjang jalan Dago, mulai dari perempatan BIP, perempatan Dipati Ukur hingga Dago atas dipenuhi kendaraan yang kebanyakan berplat nomor B. Hingga membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit. Wieeew. Di persimpangan menuju Dago Pakar Timur dan Dago Bengkok yang menuju ke arah Mekar Wangi barulah terasa jalanan tidak terlalu padat.

Sore harinya sekitar pukul 5.30 barulah suamiku, aku dan Ega meninggalkan rumah dengan harapan kepadatan lalu lintas sudah mulai mencair. Dan ternyata dugaan kami benar, sehingga perjalanan kali ini hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Anak2 amat menikmati tinggal di rumah peristirahatan tersebut dengan halaman yang luas, pemandangan yang memikat dan hawa yang sejuk. Beruntung kali ini Bandung tidak di guyur hujan, sehingga dengan leluasa anak2 membawa Pablo berjalan dan berlari kian kemari di halaman.

Dengan kebaikan hati dari tetangga yang menyewa rumah di sebelah rumah peristirahatan tempat kami tinggal, pada malam harinya dibuatkan api unggun kecil lengkap dengan ubi merah yang di bungkus dengan alumunium foil, di masukkan ke dalam api unggun dan tidak ketinggalan marshmallows yang ditusukkan pada tongkat panjang dan kemudian kami membakarnya. Beberapa marshmallows sempat terbakar hingga mengeluarkan api, beruntung tidak sampai gosong sehingga masih nikmat untuk disantap.

Anak2 bergantian memasukkan potongan kayu yang di ambil dari tumpukan sisa kayu bekas membangun rumah di dekat lokasi rumah peristirahatan kami –wah, jangan terbayang kayu diambil dan di potong dari tengah hutan, hehehehe- diselingi berbincang, menggoda Pablo, membakar marshmallow dan menikmati es krim. Sesudah tumpukan kayu habis, kami menunggu hingga api unggun mengecil kemudian mulailah pencarian ubi merah di antara bara api dan kayu sisa pembakaran.

Pernahkan mencicipi ubi merah yang matang di dalam api unggun? Rasa manis yang bercampur dengan aroma bakaran, mmmm sungguh nikmat.

About ami

kami ingin berbagi cerita kehidupan, gagasan dan peluang berkarya. terima kasih kepada yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membuka halaman blog kami. salam Lihat semua pos milik ami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: