gusur
12 mei 2009
10.04pm
Pernah lihat nggak, satuan Satpol PP dengan truknya mengangkut gerobak dagangan atau becak yang mereka anggap telah menempati lokasi terlarang. Nasib seperti itu hampir saja terjadi terhadap outletku. Untungnya satuan Satpol PP datang pada pagi hari pada saat outlet belum dibuka dan gerobak dalam keadaan dirantai, sehingga mereka tidak jadi mengangkutnya dan oleh penjaga toko -dimana outletku terletak didepannya- disampaikan bahwa pemilik outlet sudah menerima surat panggilan dan akan menghadap pada hari itu juga sekitaran siang hari.
Ternyata outletku terletak di kawasan khusus, yaitu kawasan yang dijaga kerapian dan kebersihannya dengan cara tidak memperbolehkan pedagang kaki lima berjualan di kawasan tersebut. Karena outletku berbentuk gerobak yang memang harus terletak di tepi jalan dengan menggunakan konsep drive thru, jadi aku ini termasuk pedagang kaki lima, hehehe
Singkat cerita suamiku bertemu dengan komandan divisi … Satpol PP dan terjadilah negosiasi, yang mengharuskan relokasi dan untuk menempati lokasi baru yang terletak di luar kawasan khusus, tetap ditarik pungutan sebesar 100ribu rp setiap bulannya. Masih ditambah pungutan 300ribu rp yang berlaku untuk satu tahun dikarenakan di badan gerobak terdapat logo dan tulisan merk dagang. Pajak reklame lah.
Dengan meminta kebijaksanaan memberi waktu sehari dua untuk mencari lokasi baru, suamiku disertai tim survey dari kantor pusat –dalam 2 hari mereka telah datang kembali dari Surabaya- kemudian mencari lokasi baru yang tetap sesuai dengan syarat lokasi oleh franchisor.
Sekarang ini belum satu minggu outletku telah berpindah tempat di luar kawasan khusus tetapi masih terletak di dalam kota Cimahi.
Tidak hanya kang gajah pesing yang harus berhadapan dengan aparat, kami di Cimahi juga sempat harus berurusan dengan aparat.
Semoga ….

Mei 13, 2009 pada 12:21 am
(doh) Padahal lagi pingin ngerasain kebabnya malah sudah pindah lagi…. Ojo adoh-adoh tho mbak..kuesel sikilku…
***
cuedak kok karo panggonan awal. cuma lek diitung tekok batam yooo larang nang transport hehehehe
Mei 13, 2009 pada 6:17 pm
Waduuuh mbak… I’m sorry to hear that.
Moga lokasi yang baru bisa mendatangkan rejeki yang lebih baru lagi
dan lebih banyak tentunya.
Cimahi… saya tahunya pasar antri…
dekatkah dengan kebab mbak ?
***
amiiin. terima kasih ya doanya.
*dahiku berkerut nih, dimana yaa pasar antri*. yang pasti lokasi baru ada di jalan akses utama dari bandung. eeeeh kapan maen ke bandung??
Mei 13, 2009 pada 8:24 pm
kalau gak dari awal diwanti-wanti istri supaya sabar, mungkin penyelesaiannya bisa beda…
tapi alhamdulillah semuanya bisa ‘diselesaikan’…
Luv U so much Sweety… XOX.
***
iya terselesaikan. XOX
Mei 14, 2009 pada 4:41 am
hmmm….bunda senyum senyum baca tulisan ini…
satu sisi…hebat bener mbak Ami ini….semangat luar biasa untuk menjadi wirausaha…sisi lain….sewa kios saja mbak ,biar tentrem dan bisa berkembang…siapa tahu malah bisa menjadi Wara laba sukse…he..he…
***
bunda saya baruuuu saja belajar bakulan jadi beraninya ambil paket franchise terkecil. mohon doanya ya bunda supaya berkembang dengan baik dan saya semakin berani melebarkan usaha ini dengan mengambil paket untuk indoor outlet yang artinya butuh sewa kios, bukan di emperan toko hehehehe. salam
Mei 14, 2009 pada 3:53 pm
jadinya pindah kemana jeng?
semoga di lokasi yang baru tambah sukses, laris, banyak pelanggan, berkah. amiiiinnn…
***
amiiin, sepertinya memang makin baik ditempat yang baru. sekarang di gatsu. kapan nih ke cimahi?
Mei 15, 2009 pada 1:58 pm
kapan2 main ke gatsu ach..
jadi ikut tegang ngebaca gusur menggusur
btw “pasar antri” di samping Cimahi Mall, knp ngak di sana mbak? tapi gatsu oke juga .. selamat n sukses
***
amin, selalu ditunggu di gatsu. pilihan lokasi yang bagus di cimahi tentu banyak ya kang. pada akhirnya rasa pas di hati ikut menentukan juga. begitulah, jadi pilihan jatuh di gatsu. begituuu
Mei 15, 2009 pada 11:38 pm
waooo emang jualan apa tante?? kebab ya?? waaooo pengen!!! udah lama ngga makan kebab.
***
yuuuuk ke gatsu di cimahi ….
Mei 16, 2009 pada 8:13 am
Yang penting semangatnya aja, mbak’e .. jangan putus asa.
Siapa tahu tempat yang baru lebih membawa banyak rezeki.
Untung mamase siap selalu.. hehehe *diketak!*
***
sip, he eh digusur ke tempat yang lebih baik ya
Mei 18, 2009 pada 8:42 pm
memang PKL menjadi polemik di masyarakat dan di pemerintahan
satu sisi PKL menjual makanan murah bagi para pembeli
disatu sisi PKL merusak pemandangan kota
***
betul, bagus juga ada kawasan khusus yang bebas pkl
Mei 19, 2009 pada 8:21 am
kujawab disini…
Ekonomi Kerakyatan
***
bablas ke situ
Mei 19, 2009 pada 11:50 am
Bweh! sik penting ono kesepakatan yang tidak merugikan baik dari aturan lokal atau para user
iki copas pembicaraan malam itu BWAKAKKAAKKAKK!!
***
woh malam itu?? kapan, dimana?? huehehehe
Mei 20, 2009 pada 12:30 pm
ironis memang mbak,
disatu sisi melakukan tindakan untuk mempercantik kota *katanya*.
namun di sisi yang lain,niat orang untuk mengais rejeki demi kehidupan yg lebih baik
semoga solusinya tidak merugikan pihak manapun
***
iya semoga kang
Mei 20, 2009 pada 7:56 pm
kasian ya digusur…mereka kan cr makan…coba disiapin tempat gitu br ga merugikan mereka
***
he eh mestinya begitu yaaa
Mei 25, 2009 pada 11:32 pm
Amy.. aku jadi inget.. sembari jaga klinik aku sering bawa katalog ini-itu untuk temen-temen .. tiba-tiba beberapa tahun lalu diseluruh gedung dimana-mana ditempel kertas bertuliskan DILARANG BERJUALAN DALAM BENTUK APAPUN.. aku sih cuek saja. Aku merasa gak merugikan siapapun tapi yang kasihan para karyawan,(saat itu kebanyakan mereka honorer dengan gaji yang bener-bener tidak cukup untuk hidup.. ) mereka dipanggil pimpinan, dilarang bawa kue, minuman dan sejenisnya..
Alhamdullillah.. ternyata semua hanya gertak sambal belaka..
***
hlah kenapa ada gertak sambal segala na??